pieces of momey' stories

Panik

on February 28, 2011

Kemaren si Eydro tertangkap mata mencoba bedak mamanya. Bukan hanya mengambil bedak yg dlm jangkauannya, dia juga mengoleskan bedak itu ke mukanya selayak mamanya lagi pakai bedak.

Huaaaaaa… langsung panik.

Tindakan emaknya yg liat cuma, langsung ambil bedaknya (walaupun pake penolakan dari eydro) dan alihkan perhatian ke permainan lain.

Gara2 itu, pagi ini langsung deh googling tentang sifat peniru yg ‘salah’ ini. Thanks God ketemu dengan artikel ini:

“SI UPIK MENIRU AYAH, SI BUYUNG MENIRU IBU

Kadang anak juga akan meniru perilaku dari jenis kelamin yang berbeda. Misalnya, anak laki-laki meniru tingkah laku ibunya dan anak perempuan meniru tingkah laku ayahnya. “Sebenarnya ini nggak apa-apa, karena anak juga perlu tahu bagaimana ibu dan ayahnya. Jangan sampai anak hanya tahu ibunya saja atau ayahnya saja,” terang Retno.

Yang penting, tambah Retno, jangan sampai anak perempuan lebih sering meniru ayahnya dan anak lelaki malah cenderung meniru ibunya. Karena proses peniruan ini nanti arahnya ke proses identifikasi di mana anak beridentifikasi dengan jenis kelamin yang sama. Biasanya terjadi di usia TK atau sekitar 4-5 tahun. “Nah, kalau anak lebih sering meniru dari jenis kelamin berbeda, sebaiknya orang tua mengarahkan.” Misalnya, “Aduh, Mbak pakai sepatu Ayah. Memang Ayah gagah, ya! Mbak mau seperti Ayah?” kemudian alihkan perhatiannya pada hal atau pekerjaan yang sesuai jenis kelaminnya, “Eh, Mbak, Ibu ingin dibantu, lo. Yuk, ikut Ibu ke dapur, bantu Ibu potong sayur.” Begitupun bila anak lelaki, misalnya, senang berdandan. Ayah bisa mengatakan, “Wah, Abang ingin dandan seperti Ibu, ya? Coba, nih, Abang pakai baju Ayah. Enak mana, sih?”

Jadi, ayah memberi tahu kepada anak lelaki dan ibu yang memberi tahu anak perempuan. “Disitulah sebetulnya peran ayah dan ibu pada anak yang berjenis kelamin sama dengan orang tuanya. Agar si anak nantinya beridentifikasi dengan orang tua yang berjenis kelamin sama dengannya.” Namun begitu, tak berarti harus ayah terhadap anak lelaki dan harus ibu terhadap anak perempuan. Baik ayah maupun ibu sama-sama bisa melakukannya. Misalnya, “Kenapa, sih, Abang ingin dandan seperti Ibu? Ayah gagah, lo. Abang pasti juga gagah kalau dandan seperti Ayah.” Atau, bisa juga ibu mengalihkan, “Nah, sekarang Ibu lagi dandan. Coba Abang pura-pura jadi bapaknya. Nih, Abang pakai baju Ayah.”

Sebenarnya, terang Retno, pada setiap anak ada kecenderungan meniru dari jenis kelamin yang berbeda. “Ini tak berpengaruh apa-apa pada perkembangan anak. Maksudnya, anak tak akan sampai jadi homo atau lesbian. Karena bila anak sudah masuk sekolah, dia akan memasuki age gang di mana gang-nya itu terdiri dari anak yang berjenis kelamin sama. Jadi, tetap ada balance .” Meskipun Retno mengakui, sampai sekarang hal tersebut masih diperdebatkan.

Yang penting, lanjut Retno, sepanjang ayah dan ibu sama-sama memperhatikan anak, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jadi, biarkan saja anak di masa batitanya meniru dan mencoba semuanya agar dia juga belajar mengetahui peran masing-masing jenis kelamin.”

sumber: http://tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Si-Kecil-Suka-Meniru

Wuiiih.. langsung lega.

Berarti lain kali harus diarahkan aja. Gak panik. Pelan-pelan bilang ke anaknya klo itu milik mama.

Dan peran si dadey harus ditingkatkan untuk ngingetin soal sifat ini.

Tambah 1 lagi pelajaran hari ini. Parenting is a never ending lesson…🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: